Archive | Omnia Causa Fiunt RSS feed for this section

CHAPTER 2 – THE WORLD IS CRAZY AND WE DON’T CARE.

30 Mar

Dear strangers…
Have you ever heard about There’s always two sides of a coin? This what I’m going to tell you more. Maybe you already realize that in Key’s life there is never been two sides of coin only but there’s so many sides of it.
Instead of using the coin thing, Key’s life is more like a puzzle. You only can know the exact shape if you finish it first.

——

DISCLAIMER: This story is originally mine and a pure fiction based on the author’s imagination along with her own life experiences. Every people, names, titles, places, and events in this story are fictions. If there are any similarities of this story with any particular situation out there, those are accidentally and by a chance only.

CHAPTER 2
THE WORLD IS CRAZY AND WE DON’T CARE.

KEY

     My sleeping habit is getting worser and worser. Why can’t I sleep when the clock hit 11 like any normal people and why can’t I wake up exactly when the clock hit 5 like normal people too? It’s just eveytime I’m going to sleep my head suddenly can’t stop popping some random scenarios of life all around my mind. Tonight I’m thinking way too much about my friends.
Aku bukanlah tipe manusia yang supel dan mudah berteman. I’m a very picky person when it comes to choose whom to be with. For me, memilih teman itu lebih sulit dibanding memilih pacar, karena buatku yang namanya pacar itu sewaktu-waktu bisa saja bubar jalan tapi dalam hal teman, I don’t care how cheesy it may sound, sahabat… aku tidak pernah ingin putus-nyambung dengan mereka.
Hingga detik ini, aku hanya memiliki segelintir teman dekat. Satu orang adalah temanku sejak kecil, satu orang adalah temanku sejak SMP, satu orang temanku sejak SMA, dan satu orang kukenal saat aku masuk kuliah.

. . .

Oshi is my gay best friend. Iya, kalian nggak salah baca… he’s indeed a guy but also a gay. I know him since kindergarden… dan sejak dulu, Oshi memang berbeda dengan yang lain. Disaat anak-anak cowok yang lain grasak-grusuk berebutan bola di halaman sekolah, Oshi hanya akan duduk manis di pinggir lapangan sambil tersenyum. Beberapa kali dia mencoba bergabung denganku dan teman-temanku yang lain kalau kita sedang bermain rumah-rumahan atau masak-masakan. Tapi biasanya itu tidak akan berlangsung lama, karena kita akan dengan heboh nyorakin dia, “Iiiih… Oshi banci! Oshi banci! Sana main bola, ngapain ganggu-gangguin anak cewek?” Kalau sudah begitu, Oshi bakal berdiri lalu menundukkan kepalanya dan berjalan menjauh. Begitu terus selama berbulan-bulan. Sampai suatu hari, aku terpaksa menunggu Bang Dandi yang telat menjemputku karena ban sepedanya bocor. Tidak jauh dariku, berdirilah Oshi. Aku, yang sejak kecil memang sudah dianugrahi rasa gengsi yang luar biasa, jelas dong ogah menyapa dia duluan. Sampai akhirnya Oshi mendekatiku,

“Kinaya kok belom pulang?” Oh, namaku masih Kinaya pada saat kejadian ini, “Kenapa?”

“Nunggu dijemput,” Jawabku singkat, padat, jelas, dan songong.

“Dijemput siapa?” Oshi terus bertanya padaku dengan nada yang agak kelewat ramah.

Dari obrolan itu, entah bagaimana ceritanya aku kemudian semakin dekat dengan Oshi. Berhubung rumah kami juga bertetangga, bukan cuma di sekolah saja aku sering bersama dengan Oshi, hampir setiap sore aku dan Oshi bermain. Maklum anak komplek, jadi mainnya juga paling jauh ke pos satpam depan. Begitu masuk SD, aku dan Oshi kembali satu sekolah, hanya beberapa kali berpisah kelas.
Sampai ketika masuk SMP, Oshi mengalami masa-masa sulit, orangtuanya mulai memperhatikan kejanggalan pada anaknya. Orangtua Oshi mungkin termasuk di dalam tipe-tipe orangtua yang paling menyebalkan di dunia. Background keluarga mereka yang berasal dari militer, kurang lebih mempengaruhi cara orangtua Oshi mendidik anaknya. Otoriter dan Sangat disiplin. Beberapa kali konsultasi ke psikolog, barulah ketawan kalau Oshi memang berbeda. Dia laki-laki yang lebih suka membantu Ibunya memasak dan berkebun, Oshi adalah laki-laki yang tidak suka pada hobi berburu ayahnya, Oshi diam-diam suka membaca majalah milik ibunya, Oshi lebih suka Westlife daripada bergadang malam-malam menonton Smackdown… dan Oshi tidak tertarik pada wanita.
Orangtua Oshi tidak bisa menerima kenyataan ini, tanpa pikir panjang mereka memindahkan Oshi dari sekolah biasa tempatku dan Oshi belajar ke sekolah khusus laki-laki, lengkap dengan asrama dan didikan ala militer. Tentu saja dengan harapan Oshi akan sembuh dan akan menjadi normal.
Aku masih ingat aku dan Oshi sama-sama tidak bisa berhenti menangis ketika mengucapkan selamat tinggal. Bagaimana tidak, bertahun-tahun kami bersahabat dan bayanganku adalah aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.
Tapi siapa sangka kalau langkah yang diambil orangtua Oshi justru salah besar, di sekolah barunya, Oshi malah menemukan orang-orang yang sama dengannya. Fakta yang mengejutkan memang. Aku dan Oshi masih sering berkomunikasi, awalnya hanya lewat surat via pos dan lewat email ketika internet mulai mudah diakses. Beberapa kali Oshi menceritakan tentang siapa yang sedang disukainya atau siapa yang dia tau diam-diam menyukainya. He even got his first kiss by then.

Sementara aku terpaksa terpisah dengan sahabat kecilku, di sekolah aku mulai menemukan teman-teman baru. Pada saat itu yang disebut dengan anak gaul adalah anak yang punya geng, serius… geng. Of course I’ve got my own gank too.

Aku tidak akan menuliskan apa nama geng itu disini, not in a million years………….. Okay, I will write it, the gank’s name is ‘Beauty Girlz’. Man, that was super lame! Kenapa juga huruf belakangnya harus ‘Z’? Emangz pentingz?
There are four of us in this gank. Me, Emily, Deandra, and Reyna. All of us still together until now, masih sering ketemu dan masih dekat. Tapi, dibanding dengan Deandra dan Reyna, aku jauh lebih dekat dengan Emily. Hingga detik ini, walaupun beda kampus, aku dan Emily bisa bertemu hampir setiap hari. Entah untuk sekedar lunch atau ngopi.
Emily, is a very normal girl with very common attitude and a little bit lacking on thinking department. Bahasa manusiawinya, pinter-pinter bodoh. She’s a beautiful cute girl with great sense of fashion… selain hobi ngerumpiin orang, satu hal yang membuatku semacam berjodoh dengan Emily adalah hobi shopping yang kadang kala tak terbendung. Both of us juga sering sekali kena hukum bareng-bareng. Mulai dari yang biasa-biasa saja dari sekedar ketawan nyontek sampai yang konyol semacam Emily yang ketawan pacaran di kelas dan aku yang ikut-ikutan dihukum karena jadi pengawas Emily kalau sampai tiba-tiba ada guru lewat. With Emily I have this tons of crazy memories, most of it are super funny or super dumb.

Tapi aku dan Emily sempat terpisah ketika SMA, untuk pertama kalinya dalam sejarah seorang Key akhirnya masuk ke sekolah negeri, setelah dari TK sampai SMP bersekolah di sekolah swasta. Sekolah yang kuincar adalah salah satu sekolah dengan standar nilai tertinggi, aku berhasil masuk sementara Emily gagal karena nilainya tergeser oleh sekian banyak orang diatasnya. Again, aku harus kembali berpisah dengan sahabatku. Aku kembali harus bersusah payah mencari teman baru. Then I found this guy, whom with him, I have a little different story dibandingkan dengan Oshi dan Emily.

His name is Akbar, I call him Abay. He was a senior while I was a fresh man and when I was a sophomore he was graduated already. Yes, my best friend adalah seorang kakak kelas. To he honest, masa-masa SMA ku tidaklah semulus dan menyenangkan seperti saat aku SD atau SMP. Karena aku kurang bisa bergaul dengan kebanyakan anak-anak disitu, menurutku mereka semua terlalu berbeda denganku dan aku tidak merasa begitu nyaman berada di sekitar mereka. Bukan berarti aku tidak punya teman, aku punya banyak teman, tapi aku tidak punya teman dekat. Sejak itu, aku mulai terbiasa menghabiskan waktuku sendirian. Membaca di perpustakaan, duduk diam di dalam kelas, atau sesekali duduk di pinggir lapangan basket… tempat aku berkenalan dengan Abay.
It was a cloudy day, jelas sekali sebentar lagi akan hujan. Tapi aku yang sedang bosan di kelas memutuskan pergi ke lapangan basket yang pada saat itu sedang dipakai bermain oleh beberapa anak kelas 12. It’s not a strange view, they’ve always playing there all the time. Jadi aku hanya duduk di pojok tribun paling atas dan menonton permainan mereka. Sampai tiba-tiba hujan turun dan semua orang, termasuk aku, panik berlarian mencari tempat berteduh. Saat itu masih jam 10 pagi, jam sekolah masih panjang. Kalau sampai seragamku basah kuyup, masa mau belajar sambil basah-basahan… mau masuk angin?
Aku sudah setengah jalan menuju sebuah bangunan tidak jauh dari lapangan basket, ketika aku mendongak aku baru menyadari kalau bangunan yang aku tuju adalah ruang tari yang letaknya bersebrangan dengan pintu masuk ke gedung utama. I always have a very bad sense of direction, bahkan jalan kaki saja bisa nyasar. Sementara hujan semakin deras, kalau aku berbalik arah maka dipastikan aku akan basah kuyup. Then suddenly, someone covered my head and my body with a jacket, then ran along with me menuju gedung utama. Thanks to him, I’m still wet but not that bad.
That’s how I met Him, my another best friend.

Setahun kemudian, ketika Abay akhirnya lulus dan melanjutkan studinya ke Singapore, kejadian yang sama terulang lagi… coba hitung untuk keberapa kalinya aku berpisah dengan seorang teman. Dimulai dengan Oshi, lalu Emily, lalu Abay. Mungkin tidak tepat dibilang benar-benar berpisah, karena aku masih terus berkomunikasi dengan mereka, tapi kan tetap saja……

Tapi kemudian sesuatu yang baik terjadi… Oshi is back! Iya, tau-tau saja dia nongol di depan rumahku, dengan senyum lebar dan langsung memelukku. It’s been 4 years since the last time I saw him. He’s such a fine young man now, aku bahkan sempat tidak mengenalinya. Dengan tubuh tegap dan tinggi, jelas sekali dia mewarisi semua dari Ayahnya. Ayah yang kemudian aku tau tidak lagi mengakui Oshi sebagai anaknya. Karena Oshi masihlah Oshi yang dulu, yang berbeda dengan orang lain, yang tumbuh menjadi seseorang yang tidak diinginkan oleh Ayahnya.
Oshi tidak bisa menyembunyikan kegetiran dalam suaranya saat mengatakan, “I live by myself now,” padaku. Satu-satunya yang ayah Oshi berikan padanya adalah jutaan uang di rekening Oshi, harga yang dibayarkan demi membuat Oshi menyingkir jauh-jauh dari hidupnya dan kalau bisa, mungkin berpura-pura saling tidak kenal.
Setengah dipaksa oleh keadaan, mau tidak mau akhirnya Oshi memulai semuanya dari awal. Yang aku tau, dia berusaha keras untuk tetap hidup, bahkan dia berhasil masuk ke salah satu universitas negeri terbaik dengan nilai gilang gemilang.

Sementara aku sendiri juga kembali memulai babak baru dalam hidupku. Lepas dari bangku sekolah, sebuah gerbang baru terbuka. Entah hanya perasaanku saja atau beberapa orang lain juga merasakan hal yang sama, memulai tahun pertama di kampus membuatku merasa memiliki pilihan tak terbatas untuk memilih kemana hidupku akan mengarah.
Jurusan yang kupilih adalah Sastra Inggris. Di hari pertamaku aku bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi salah satu orang terpenting untukku, someone that I would kill to keep her by my side. Her name is Mimo.

Seo Mimo is korean. Kesan pertamaku saat melihatnya adalah, dia terlihat seperti boneka hidup. Dengan tubuh curvy yang mungil, kulit putih, wajah kecil, dan mata yang bulat dengan contact lense berwarna biru ditambah blonde curly hair. She looks like some manga character who jump out from a comic book. So what’s Korean girl do in Indonesia? Aku juga pernah menanyakan hal yang sama padanya. Then again, the reality slaps me right on my face.
Mimo have a kinda similar situation with Oshi. Same feeling, different story.
Let’s be honest here, stubborn parents maybe one of the most worst thing in the world. Di bulan ketiga aku mengenal Mimo, out of nowhere Mimo suddenly tell me her story, by then she couldn’t speak in Bahasa Indonesia at all and even her English is still a little bit too Korean,

“My parents hate me… Especially my Dad, he hate me so much. He always got angry to me everytime He saw me read a book, he said that book isn’t for girl, girl’s job is learning how to cook, how to sheet a bed, how to take care of house. But, Key… I love reading much, so I was never listened to him. I never become my Dad’s favorite, for him having a girl as his first children is such a disappointment, he never really love me. When finally Mom given birth to his second child, it is a boy. He looked very happy, even back at that time I was only two years old, I still remember my heart hurt very bad. As time goes by, my Dad become more strict. He said he wants me to marry a good guy, so until the time I find him, I didn’t allowed to have any boyfriend. How can I find the one when I even ever have one? I always got jealous when I saw a girl walking hand in hand with her dad and her dad will kiss her on the head… because as long as I can remember, my Dad barely ever touch me. He hate me that much. One day, I went home with my classmate, it’s a boy. I don’t know anything but suddenly that boy kissed me on the lips, right when my Dad get home from work. Can you imagine how mad He was? He said this many mean things to me. He even called me slut and he said I’m not her daughter, I will never be.”

Setahun setelah kejadian itu berlalu, Mimo berada di persimpangan jalan. Dia bisa saja bertahan di rumahnya, berharap Ayahnya akhirnya berubah dan menerimanya. Atau dia bisa pergi jauh, memulai semuanya dari awal. She choose the second option. Modal nekat, dia mengirimkan banyak application ke universitas-universitas internasional di luar Korea yang bisa dia temukan alamat emailnya di internet. Salah satunya adalah UE, so that’s how Mimo end up here today.

. . .

My friends are not exactly a good people but you can always find a goodness in every people, can’t you?
Dengan mereka, I learn a lot about life and I feel a lot about living… Maybe we are only on our 20s now and the world is definitely a crazy place to live in but we don’t care, at least we got each other back, always.

Advertisements

CHAPTER 1 – OMNIA CAUSA FIUNT. MEANS: EVERYTHING HAPPENS FOR A REASON, BABY.

30 Mar

Dear strangers…
Have you ever tried to looking back to what you’ve been going through or hoping to have a some kind of superpower to seizing your future? I have.
But truth be told, both of it is not that easy to do… in fact, remembering our past is kinda hard because human have this great abbility to simply forget anything and of course seeing future is almost impossible.
But… I have this tale to telling you. This story is not about you and not exactly about me either, this is about people and their cliche life, a life that happen to everybody.

——

DISCLAIMER: This story is originally mine and a pure fiction based on the author’s imagination along with her own life experiences. Every people, names, titles, places, and events in this story are fictions. If there are any similarities of this story with any particular situation out there, those are accidentally and by a chance only.

CHAPTER 1
OMNIA CAUSA FIUNT. MEANS: EVERYTHING HAPPENS FOR A REASON, BABY.

KEY

     I am officially declare myself as God’s personal joke. There, I said it. Aku menjatuhkan kepalaku ke atas keyboard komputer, serangkaian huruf tanpa arti muncul di layar, ‘asbbjugesj’, aku memandang huruf-huruf itu dengan sentimen yang berlebihan. Bahkan benda mati semacam komputer pun membuatku sebal.

“Key,” Suara Mama terdengar dari bawah, “Ayo buruan turun, nanti makanannya keburu dingin semua loh ini…”

“Iya Maaaa…” Sahutku asal saja, kenyataannya aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat dudukku, memandang kosong ke layar komputer.

Dalam beberapa kali klik aku menutup halaman blog milikku yang tadinya berencana kuisi dengan posting tentang acara musik di kampus beberapa hari yang lalu lengkap dengan beberapa foto asal-asalan hasil jepretanku. Aku membuka folder tempat foto-foto itu berada, kembali melihatnya untuk keseratus kalinya. Beberapa diantaranya terlihat buram karena aku, tentu saja tidak berpengalaman sama sekali dalam dunia foto-memfoto.Tetapi wajah-wajah yang tertangkap di dalamnya terlihat jelas, jelas sedang bersenang-senang dan beberapa terlihat jelas sangat bodoh. Sebuah senyum samar muncul di wajahku.

“Kak!” Dengan debam keras tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar, “Turun sih! Adek udah laper nih, tapi nggak boleh makan sama Mama kalau Kakak belum turun!”

That’s my grumpy little brother talking. Kalau dia sudah mulai ngomel-ngomel then it’s my cue to go to the dining room right away, before anything worser happen.

My name is Key, by the way. Lengkapnya, Kinaya. Tapi jarang sekali ada orang yang kukenal repot-repot memanggilku ‘Kinaya’, all of them calling and writing my name as ‘Key’, Key as in kunci, K-E-Y, it’s laughable isn’t it? Awalnya itu hanya kerjaan sepupu-sepupuku saja, entah dari mana mereka bisa tiba-tiba membuat nama panggungku seperti itu, kemudian entah dari mana juga semua orang mulai memanggilku begitu, termasuk kedua orangtuaku. Tapi berhubung nama itu sudah nempel padaku sejak kira-kira aku masih duduk di bangku sekolah dasar, I can’t do anything about it since it’s too late now.
Aku mematut diriku di depan kaca yang terletak di dinding yang berhadapan dengan kaki tangga. Dari sudut mataku aku melihat adikku sudah duduk manis di meja makan, cemberut.
Aku adalah anak sulung dari dua bersaudara. Aku dan Rayi berjarak lima tahun. Saat ini usiaku menginjak 20 tahun sementara Rayi masih berumur 15 tahun, yang artinya seperti manusia-manusia berumur 15 tahun lainnya, Rayi sekarang sedang lucu-lucunya (dalam konteks ini, lucu = ya gitu deeeh…) if you know what I mean.
Tapi di umurku dan Rayi yang masih segini-segini saja, there’s so many bumpy roads we’ve already been through in life. Yang paling parah tentu saja adalah perceraian Mama dan Papa tiga tahun yang lalu. Iya, orangtuaku memang sudah resmi bercerai, bahkan sekarang masing-masing dari mereka sudah kembali berkeluarga. Mama dengan suami barunya yang kupanggil Ayah, Papa dengan Istri barunya yang kupanggil Ibu. Tapi setahun belakangan ini aku dan adikku memilih tinggal dengan Mama dan Ayah setelah sebelumnya sempat tinggal dengan Papa dan istrinya, juga anak-anaknya.
Aku hanya tinggal bersama mereka selama 2 bulan, karena pada tahun itu aku diharuskan berangkat ke London dalam rangka pertukaran pelajar dan sejak itu tidak pernah menginjakkan kaki lagi di rumah itu. Sementara kisah Rayi agak sedikit lebih dramatis.

Kabar bagusnya adalah, hidupku sudah baik-baik saja sekarang. Kabar buruknya, seperti yang pepatah bilang kalau mati satu maka akan tumbuh seribu, begitulah kira-kira siklus masalah dalam hidupku. Sebenarnnya tidak tepat juga menyebut apa yang aku alami ini adalah masalah, hidupku tidak bermasalah… I’m such a completely happy girl. Hanya saja, selalu ada hal-hal aneh nan ajaib yang terjadi padaku, andaikan aku adalah penulis handal macam Raditya Dika mungkin sekarang aku sudah bisa menerbitkan berjudul-judul buku yang berisi cerita-ceritaku.

. . .

Selesai makan malam, aku membuat segelas coklat panas dan membawanya naik ke kamar. Saat membuka pintu balkon kamarku, angin dingin berhembus, sepertinya Jakarta akan hujan deras malam ini. Setengah melamun aku tiba-tiba kembali mengingat apa yang membuatku marah-marah tadi. Fian.
Fian adalah pacarku, we’ve been dating for this past two years dan semakin kesini aku semakin merasa ada sesuatu yang salah dalam hubungan kami. Tadi sore dia tiba-tiba saja membatalkan acara nonton konser weekend ini. FYI, those tickets are expensive, you idiot! Aku menyumpah-nyumpah dalam hati.
Dibanding kesal pada Fian, aku lebih kesal pada diriku sendiri. Seperti yang sudah diramalkan oleh teman-temanku, keputusanku untuk balikan dengan Fian sepertinya memang salah besar. Aku dan Fian memang sempat putus pertengahan tahun lalu. But let’s face it, I was madly in love with him. Since me and Fian have some kind of history.
Aku mengenal Fian di saat-saat paling kritis di hidupku, di tengah proses perceraian Mama dan Papa. Sementara aku hampir tidak punya teman baik untuk diajak bicara. Saat itu aku dan dia sama-sama duduk di kelas 12, ujian akhir sudah di depan mata. Bahkan aku dan Fian kenal karena kita satu kelas di bimbingan belajar. Pada saat itu, I was actually in need for some helping hand, then there was Fian. Semakin aku dekat dengan dia, semakin banyak yang kuceritakan padanya dan semakin sering juga aku menghabiskan waktuku dengannya. Mulai dari belajar bareng sampai dia yang mau-mau saja aku ajak kesana-kemari untuk sekedar jalan dan muter-muter nggak jelas.
Singkat cerita, akhirnya kita pacaran, it was a week before final examination held. Setelah tetek-bengek ujian selesai, selama menunggu pengumuman kelulusan, sepanjang liburan sebelum masuk kuliah… kalau boleh aku bilang, it was the best time I’ve ever had with Fian. Aku dan Fian bahkan sama-sama gagal bareng masuk ke universitas negeri pilihan kita, karena tidak lolos SNMPTN. Tapi layaknya orang yang sedang jatuh cinta, kita melewatinya dengan santai-santai saja, bahasa noraknya adalah, as long as we’re together then everything will be just fine. Yak, silahkan yang mau muntah…

Tapi faktanya keputusan yang aku buat itu adalah salah satu keputusan yang mungkin tidak akan pernah berhenti aku sesali seumur hidup. Setelah gagal masuk ke universitas negeri idaman, yang otomatis sudah kuidam-idamkan bahkan sejak aku masih duduk di kelas 7, Papa menawarkan sesuatu yang harusnya tidak kutolak, bahkan harusnya aku tidak perlu berpikir panjang untuk bilang iya,

“Kak, kenapa nggak kuliah di luar negeri aja? I will pay for it… Singapore, Australia, USA, London? Pick one.”

Can you believe it sodara-sodara yang budiman, I SAID NO FOR THAT OFFER. Yang ada malah aku dengan sok bijaknya mendeklarasikan kalau di Indonesia itu lebih baik. Dekat dengan Papa, Mama, Rayi, dan keluarga besar. Padahal dasarnya adalah semata-mata karena aku lebih memilih Fian.
Am such a stupid, didn’t I?
Dengan keputusan itu aku akhirnya mengirim application ke salah satu universitas swasta international di Jakarta, Eminent University. Sama sekali bukan universitas jelek, kalau boleh sombong, mungkin adalah salah satu kampus dengan uang semester paling mahal di Indonesia. At least this all I can do to make my parents happy still. Nggak mungkin kan sudah gagal masuk universitas negeri, menolak belajar di luar negeri, masa aku masih memilih kampus asal comot untuk kuliah? My own future is on stake too here.
Jadi begitulah, I’m studying at EU until now… not feeling bad about it at all. Karena sejak hari pertama menginjak kampus, aku bersumpah I will live my college life to the fullest, which I still do until today.

Well, talking about college life… hal itu juga yang membuat hubunganku dengan Fian merenggang. Karena kita masuk ke dua universitas yang berbeda, meskipun jaraknya relatif dekat. Aku mulai risih dengan teman-teman main Fian yang menurutku urakan dan nggak aku banget, sementara Fian merasa aku terlalu banyak berubah dan terlalu banyak kegiatan. Kenapa aku bisa tau Fian merasa begitu? Because when we broke up, he spilled it all out, we got into a big fight yang diakhiri dengan Fian begged me to back with him. Aku awalnya dengan tegas mengatakan tidak, I even threw a giant teddy bear from him into trash, tapi setelah berminggu-minggu akhirnya aku luluh juga and finally decided to made up with Fian.
Yang akhir-akhir ini mulai kusesali, why should I get back with him?
Karena setelah putus dan balikan, sikap Fian semakin berubah… contohnya adalah hari ini, my old Fian will not cancel any plan with me just like this. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang basah. Great! Now he also making me cry.

Ketukan pelan di pintu kamarku membuatku cepat-cepat menghapus air mata dari pipiku, gengsi kalau ketawan nangis. Aku melangkah masuk, menutup pintu balkon dan baru saja berjalan dua langkah ketika pintu itu keburu membuka,

“Hai! Masuk ya?”

Si tamu tak diundang itu tidak lain dan tidak bukan adalah kakak sepupuku, yang langsung melenggang masuk tanpa menunggu izinku dan tau-tau sudah mendarat di atas tempat tidurku dengan tidak tau malu. Andaikan fans-fans nya tau seperti inilah kelakuannya di rumah, aku yakin mereka akan berpikir dua atau tiga kali lebih panjang untuk naksir padanya. Dandi adalah salah satu penyiar beken di sebuah radio tersohor di ibukota, masih muda dan ganteng yang jelas. Hanya yang orang-orang tidak tahu adalah Bang Dandi, that’s how I call him, have a little sad history in his life. Dia sudah ditinggal oleh ibunya dalam usia yang masih sangat muda. Ibu dari Bang Dandi adalah Kakak Mama, dia meninggal saat Bang Dandi masih berumur 6 tahun karena kanker ganas di rahimnya. Sementara Bang Dandi juga tidak pernah mengenal Ayahnya, yang menurut cerita Mama, kabur dari rumah dengan selingkuhannya saat Band Dandi masih dalam kandungan.
Jadi sejak Ibunya meninggal, Bang Dandi tinggal dengan Kakek dan Nenek, sampai beberapa tahun yang lalu Nenek meninggal, lalu Bang Dandi tinggal dengan Mama, denganku dan Rayi sampai sekarang usianya menginjak 23 tahun. Bagiku, Bang Dandi tidak ubahnya seperti Kakak kandungku, sejak kecil dia sudah diurus oleh Mama, bahkan memanggil Mama pun dengan ‘Mama’ bukan Tante atau yang lainnya. Aku tumbuh besar bersama dengannya.

“Kamu kenapa?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku, tiba-tiba saja mukanya sudah berada tepat di depan mukaku, “Hayoooo.. abis nangis yaaa?”

“Nggak!” Aku menjawab dengan nada yang agak ketinggian,

“Bo? Hong!” Dia kembali menghempaskan kepalanya ke bantal, “Iya aja kamu mau ngebohongin Abang, nehi-nehi… tidak bisyaaaa..”

Aku memandangnya dengan sebal, memang benar aku tidak bisa berbohong padanya, tapi nggak usah pakai acara ber-nehinehi begitu segala bisa kali ya.

“Jadi, kamu kenapa?”

“Biasa, Fian…” Awalnya aku hanya berencana memberi tau Bang Dendi sampai situ saja, tapi aku malah berakhir menceritakan semuanya padanya. Semua tanpa terkecuali, keluhan yang sebenarnya sudah beberapa kali kuulang-ulang beberapa waktu belakangan ini.

“How can I put myself in a ridiculous position like this, Bang?”

“Jadi sekarang kamu sadar kamu salah ambil keputusan?” Tanya Bang Dandi, mukanya berubah serius, “Terus kenapa masih dijalanin? Abang yakin kok bukan perkara susah buat kamu minta putus sama Fian. Secaraaa, Key gitu loh…”

Aku diam, karena benar-benar tidak tau harus menjawab apa.

“Lemme tell you something, baby… you still keep Fian around because you think you guys still have a chance, deep down in your heart you believe him that much it hurts, right or wrong?”

“If that so, shall I keep doing it?”

“Do what your guts tells you to do, just don’t leave your logic too far behind… it will be just fine.”

“How come?”

“Because… everything happens for a reason, baby.”