CHAPTER 1 – OMNIA CAUSA FIUNT. MEANS: EVERYTHING HAPPENS FOR A REASON, BABY.

30 Mar

Dear strangers…
Have you ever tried to looking back to what you’ve been going through or hoping to have a some kind of superpower to seizing your future? I have.
But truth be told, both of it is not that easy to do… in fact, remembering our past is kinda hard because human have this great abbility to simply forget anything and of course seeing future is almost impossible.
But… I have this tale to telling you. This story is not about you and not exactly about me either, this is about people and their cliche life, a life that happen to everybody.

——

DISCLAIMER: This story is originally mine and a pure fiction based on the author’s imagination along with her own life experiences. Every people, names, titles, places, and events in this story are fictions. If there are any similarities of this story with any particular situation out there, those are accidentally and by a chance only.

CHAPTER 1
OMNIA CAUSA FIUNT. MEANS: EVERYTHING HAPPENS FOR A REASON, BABY.

KEY

     I am officially declare myself as God’s personal joke. There, I said it. Aku menjatuhkan kepalaku ke atas keyboard komputer, serangkaian huruf tanpa arti muncul di layar, ‘asbbjugesj’, aku memandang huruf-huruf itu dengan sentimen yang berlebihan. Bahkan benda mati semacam komputer pun membuatku sebal.

“Key,” Suara Mama terdengar dari bawah, “Ayo buruan turun, nanti makanannya keburu dingin semua loh ini…”

“Iya Maaaa…” Sahutku asal saja, kenyataannya aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat dudukku, memandang kosong ke layar komputer.

Dalam beberapa kali klik aku menutup halaman blog milikku yang tadinya berencana kuisi dengan posting tentang acara musik di kampus beberapa hari yang lalu lengkap dengan beberapa foto asal-asalan hasil jepretanku. Aku membuka folder tempat foto-foto itu berada, kembali melihatnya untuk keseratus kalinya. Beberapa diantaranya terlihat buram karena aku, tentu saja tidak berpengalaman sama sekali dalam dunia foto-memfoto.Tetapi wajah-wajah yang tertangkap di dalamnya terlihat jelas, jelas sedang bersenang-senang dan beberapa terlihat jelas sangat bodoh. Sebuah senyum samar muncul di wajahku.

“Kak!” Dengan debam keras tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar, “Turun sih! Adek udah laper nih, tapi nggak boleh makan sama Mama kalau Kakak belum turun!”

That’s my grumpy little brother talking. Kalau dia sudah mulai ngomel-ngomel then it’s my cue to go to the dining room right away, before anything worser happen.

My name is Key, by the way. Lengkapnya, Kinaya. Tapi jarang sekali ada orang yang kukenal repot-repot memanggilku ‘Kinaya’, all of them calling and writing my name as ‘Key’, Key as in kunci, K-E-Y, it’s laughable isn’t it? Awalnya itu hanya kerjaan sepupu-sepupuku saja, entah dari mana mereka bisa tiba-tiba membuat nama panggungku seperti itu, kemudian entah dari mana juga semua orang mulai memanggilku begitu, termasuk kedua orangtuaku. Tapi berhubung nama itu sudah nempel padaku sejak kira-kira aku masih duduk di bangku sekolah dasar, I can’t do anything about it since it’s too late now.
Aku mematut diriku di depan kaca yang terletak di dinding yang berhadapan dengan kaki tangga. Dari sudut mataku aku melihat adikku sudah duduk manis di meja makan, cemberut.
Aku adalah anak sulung dari dua bersaudara. Aku dan Rayi berjarak lima tahun. Saat ini usiaku menginjak 20 tahun sementara Rayi masih berumur 15 tahun, yang artinya seperti manusia-manusia berumur 15 tahun lainnya, Rayi sekarang sedang lucu-lucunya (dalam konteks ini, lucu = ya gitu deeeh…) if you know what I mean.
Tapi di umurku dan Rayi yang masih segini-segini saja, there’s so many bumpy roads we’ve already been through in life. Yang paling parah tentu saja adalah perceraian Mama dan Papa tiga tahun yang lalu. Iya, orangtuaku memang sudah resmi bercerai, bahkan sekarang masing-masing dari mereka sudah kembali berkeluarga. Mama dengan suami barunya yang kupanggil Ayah, Papa dengan Istri barunya yang kupanggil Ibu. Tapi setahun belakangan ini aku dan adikku memilih tinggal dengan Mama dan Ayah setelah sebelumnya sempat tinggal dengan Papa dan istrinya, juga anak-anaknya.
Aku hanya tinggal bersama mereka selama 2 bulan, karena pada tahun itu aku diharuskan berangkat ke London dalam rangka pertukaran pelajar dan sejak itu tidak pernah menginjakkan kaki lagi di rumah itu. Sementara kisah Rayi agak sedikit lebih dramatis.

Kabar bagusnya adalah, hidupku sudah baik-baik saja sekarang. Kabar buruknya, seperti yang pepatah bilang kalau mati satu maka akan tumbuh seribu, begitulah kira-kira siklus masalah dalam hidupku. Sebenarnnya tidak tepat juga menyebut apa yang aku alami ini adalah masalah, hidupku tidak bermasalah… I’m such a completely happy girl. Hanya saja, selalu ada hal-hal aneh nan ajaib yang terjadi padaku, andaikan aku adalah penulis handal macam Raditya Dika mungkin sekarang aku sudah bisa menerbitkan berjudul-judul buku yang berisi cerita-ceritaku.

. . .

Selesai makan malam, aku membuat segelas coklat panas dan membawanya naik ke kamar. Saat membuka pintu balkon kamarku, angin dingin berhembus, sepertinya Jakarta akan hujan deras malam ini. Setengah melamun aku tiba-tiba kembali mengingat apa yang membuatku marah-marah tadi. Fian.
Fian adalah pacarku, we’ve been dating for this past two years dan semakin kesini aku semakin merasa ada sesuatu yang salah dalam hubungan kami. Tadi sore dia tiba-tiba saja membatalkan acara nonton konser weekend ini. FYI, those tickets are expensive, you idiot! Aku menyumpah-nyumpah dalam hati.
Dibanding kesal pada Fian, aku lebih kesal pada diriku sendiri. Seperti yang sudah diramalkan oleh teman-temanku, keputusanku untuk balikan dengan Fian sepertinya memang salah besar. Aku dan Fian memang sempat putus pertengahan tahun lalu. But let’s face it, I was madly in love with him. Since me and Fian have some kind of history.
Aku mengenal Fian di saat-saat paling kritis di hidupku, di tengah proses perceraian Mama dan Papa. Sementara aku hampir tidak punya teman baik untuk diajak bicara. Saat itu aku dan dia sama-sama duduk di kelas 12, ujian akhir sudah di depan mata. Bahkan aku dan Fian kenal karena kita satu kelas di bimbingan belajar. Pada saat itu, I was actually in need for some helping hand, then there was Fian. Semakin aku dekat dengan dia, semakin banyak yang kuceritakan padanya dan semakin sering juga aku menghabiskan waktuku dengannya. Mulai dari belajar bareng sampai dia yang mau-mau saja aku ajak kesana-kemari untuk sekedar jalan dan muter-muter nggak jelas.
Singkat cerita, akhirnya kita pacaran, it was a week before final examination held. Setelah tetek-bengek ujian selesai, selama menunggu pengumuman kelulusan, sepanjang liburan sebelum masuk kuliah… kalau boleh aku bilang, it was the best time I’ve ever had with Fian. Aku dan Fian bahkan sama-sama gagal bareng masuk ke universitas negeri pilihan kita, karena tidak lolos SNMPTN. Tapi layaknya orang yang sedang jatuh cinta, kita melewatinya dengan santai-santai saja, bahasa noraknya adalah, as long as we’re together then everything will be just fine. Yak, silahkan yang mau muntah…

Tapi faktanya keputusan yang aku buat itu adalah salah satu keputusan yang mungkin tidak akan pernah berhenti aku sesali seumur hidup. Setelah gagal masuk ke universitas negeri idaman, yang otomatis sudah kuidam-idamkan bahkan sejak aku masih duduk di kelas 7, Papa menawarkan sesuatu yang harusnya tidak kutolak, bahkan harusnya aku tidak perlu berpikir panjang untuk bilang iya,

“Kak, kenapa nggak kuliah di luar negeri aja? I will pay for it… Singapore, Australia, USA, London? Pick one.”

Can you believe it sodara-sodara yang budiman, I SAID NO FOR THAT OFFER. Yang ada malah aku dengan sok bijaknya mendeklarasikan kalau di Indonesia itu lebih baik. Dekat dengan Papa, Mama, Rayi, dan keluarga besar. Padahal dasarnya adalah semata-mata karena aku lebih memilih Fian.
Am such a stupid, didn’t I?
Dengan keputusan itu aku akhirnya mengirim application ke salah satu universitas swasta international di Jakarta, Eminent University. Sama sekali bukan universitas jelek, kalau boleh sombong, mungkin adalah salah satu kampus dengan uang semester paling mahal di Indonesia. At least this all I can do to make my parents happy still. Nggak mungkin kan sudah gagal masuk universitas negeri, menolak belajar di luar negeri, masa aku masih memilih kampus asal comot untuk kuliah? My own future is on stake too here.
Jadi begitulah, I’m studying at EU until now… not feeling bad about it at all. Karena sejak hari pertama menginjak kampus, aku bersumpah I will live my college life to the fullest, which I still do until today.

Well, talking about college life… hal itu juga yang membuat hubunganku dengan Fian merenggang. Karena kita masuk ke dua universitas yang berbeda, meskipun jaraknya relatif dekat. Aku mulai risih dengan teman-teman main Fian yang menurutku urakan dan nggak aku banget, sementara Fian merasa aku terlalu banyak berubah dan terlalu banyak kegiatan. Kenapa aku bisa tau Fian merasa begitu? Because when we broke up, he spilled it all out, we got into a big fight yang diakhiri dengan Fian begged me to back with him. Aku awalnya dengan tegas mengatakan tidak, I even threw a giant teddy bear from him into trash, tapi setelah berminggu-minggu akhirnya aku luluh juga and finally decided to made up with Fian.
Yang akhir-akhir ini mulai kusesali, why should I get back with him?
Karena setelah putus dan balikan, sikap Fian semakin berubah… contohnya adalah hari ini, my old Fian will not cancel any plan with me just like this. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang basah. Great! Now he also making me cry.

Ketukan pelan di pintu kamarku membuatku cepat-cepat menghapus air mata dari pipiku, gengsi kalau ketawan nangis. Aku melangkah masuk, menutup pintu balkon dan baru saja berjalan dua langkah ketika pintu itu keburu membuka,

“Hai! Masuk ya?”

Si tamu tak diundang itu tidak lain dan tidak bukan adalah kakak sepupuku, yang langsung melenggang masuk tanpa menunggu izinku dan tau-tau sudah mendarat di atas tempat tidurku dengan tidak tau malu. Andaikan fans-fans nya tau seperti inilah kelakuannya di rumah, aku yakin mereka akan berpikir dua atau tiga kali lebih panjang untuk naksir padanya. Dandi adalah salah satu penyiar beken di sebuah radio tersohor di ibukota, masih muda dan ganteng yang jelas. Hanya yang orang-orang tidak tahu adalah Bang Dandi, that’s how I call him, have a little sad history in his life. Dia sudah ditinggal oleh ibunya dalam usia yang masih sangat muda. Ibu dari Bang Dandi adalah Kakak Mama, dia meninggal saat Bang Dandi masih berumur 6 tahun karena kanker ganas di rahimnya. Sementara Bang Dandi juga tidak pernah mengenal Ayahnya, yang menurut cerita Mama, kabur dari rumah dengan selingkuhannya saat Band Dandi masih dalam kandungan.
Jadi sejak Ibunya meninggal, Bang Dandi tinggal dengan Kakek dan Nenek, sampai beberapa tahun yang lalu Nenek meninggal, lalu Bang Dandi tinggal dengan Mama, denganku dan Rayi sampai sekarang usianya menginjak 23 tahun. Bagiku, Bang Dandi tidak ubahnya seperti Kakak kandungku, sejak kecil dia sudah diurus oleh Mama, bahkan memanggil Mama pun dengan ‘Mama’ bukan Tante atau yang lainnya. Aku tumbuh besar bersama dengannya.

“Kamu kenapa?” Pertanyaannya membuyarkan lamunanku, tiba-tiba saja mukanya sudah berada tepat di depan mukaku, “Hayoooo.. abis nangis yaaa?”

“Nggak!” Aku menjawab dengan nada yang agak ketinggian,

“Bo? Hong!” Dia kembali menghempaskan kepalanya ke bantal, “Iya aja kamu mau ngebohongin Abang, nehi-nehi… tidak bisyaaaa..”

Aku memandangnya dengan sebal, memang benar aku tidak bisa berbohong padanya, tapi nggak usah pakai acara ber-nehinehi begitu segala bisa kali ya.

“Jadi, kamu kenapa?”

“Biasa, Fian…” Awalnya aku hanya berencana memberi tau Bang Dendi sampai situ saja, tapi aku malah berakhir menceritakan semuanya padanya. Semua tanpa terkecuali, keluhan yang sebenarnya sudah beberapa kali kuulang-ulang beberapa waktu belakangan ini.

“How can I put myself in a ridiculous position like this, Bang?”

“Jadi sekarang kamu sadar kamu salah ambil keputusan?” Tanya Bang Dandi, mukanya berubah serius, “Terus kenapa masih dijalanin? Abang yakin kok bukan perkara susah buat kamu minta putus sama Fian. Secaraaa, Key gitu loh…”

Aku diam, karena benar-benar tidak tau harus menjawab apa.

“Lemme tell you something, baby… you still keep Fian around because you think you guys still have a chance, deep down in your heart you believe him that much it hurts, right or wrong?”

“If that so, shall I keep doing it?”

“Do what your guts tells you to do, just don’t leave your logic too far behind… it will be just fine.”

“How come?”

“Because… everything happens for a reason, baby.”

Advertisements
%d bloggers like this: